Memilah Sampah di Kantor

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menetapkan target dan program pengelolaan sampah hingga 2025. Upaya mengurangi sampah 30% pada 2025. Guna menjaga momentum dan semangat masyarakat, harus muncul gerakan masif, sistematis, dan konsisten. Pada tahun 2019 KLHK memunculkan Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah. Dalam konteks ini Pemerintah mendorong sampah menjadi circular economy. Gerakan Nasional Pilah Sampah dari Rumah berupaya meningkatkan angka daur ulang sebagai bahan baku (recycling rate), komposting (composting rate), dan sampah menjadi sumber energi (energy recovery rate).

Circular economy atau ekonomi sirkular adalah sebuah alternatif untuk ekonomi linier tradisional yaitu menjaga agar sumber daya dapat dipakai selama mungkin, menggali nilai maksimum dari penggunaan, kemudian memulihkan dan meregenerasi produk dan bahan pada setiap akhir umur layanan. Pada sistem ekonomi sirkular, penggunaan sumber daya, sampah, emisi, dan energi terbuang diminimalisir dengan menutup siklus produksi-konsumsi dengan memperpanjang umur produk, inovasi desain, pemeliharaan, pengunaan kembali, remanufaktur, daur ulang ke produk semula (recycling), dan daur ulang menjadi produk lain (upcycling). Dalam konteks keberlanjutan produk plastik, konsep ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui beberapa cara misalnya: recycling plastik, upcycling plastik sebagai campuran aspal, mengubah plastik bernilai ekonomi rendah menjadi bahan bakar atau energi, dan sebagainya. Menurut Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, prinsip utama yang terdapat pada ekonomi sirkular adalah 5R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle, Recovery dan dan Repair. Lima prinsip tersebut dapat dilakukan melalui pengurangan pemakaian material mentah dari alam (reduce) melalui optimasi penggunaan material yang dapat digunakan kembali (reuse) dan penggunaan material hasil dari proses daur ulang (recycle) maupun dari proses perolehan kembali (recovery) atau dengan melakukan perbaikan (repair).

Untuk ikut berperan dalam program pengelolaan sampah, maka hal yang pertama bisa kita lakukan adalah gerakan memilah sampah. Memilah sampah adalah sebuah kegiatan menempatkan sampah di tempat-tempat pembuangan atau penampungan sampah berdasarkan jenis sampah seperti sampah organik, anorganik, kertas, plastik, botol, kaca, majalah, dan lain sebagainya. Memilah sampah adalah salah satu bagian tersulit dari pengelolaan sampah, karena berkaitan dengan perilaku manusia yang pasti membutuhkan waktu panjang dan upaya yang besar.
 
Gerakan memilah sampah bisa kita mulai di lingkungan kantor. Kantor selain memiliki sumber daya manusia, juga memiliki sumber daya anggaran yang bisa mendorong untuk dilakukannya gerakan memilah sampah. Di lingkungan kantor sampah bisa berasal dari aktivitas pekerjaan maupun dari keperluan penunjang operasional kantor. Kertas bekas ketikan atau konsep yang salah, isi pulpen bekas, cartridge tinta bekas, merupakan beberapa contoh sampah yang kita hasilkan di kantor yang berasal dari aktivitas pekerjaan. Selain itu pasti ada juga sampah sisa makanan, tisue bekas, atau sampah kemasan produk makanan yang kita konsumsi atau sampah kemasan produk penunjang keperluan kantor misalnya sampah kemasan sabun cair, sampah kemasan cairan pembersih lantai dan masih banyak lagi.
 

Dalam melakukan pemilahan sampah di kantor dapat dilakukan :
1. Melakukan kesepakatan dan komitmen bersama untuk melakukan gerakan pemilahan sampah.

2. Menetapkan penanggung jawab yang dibutuhkan untuk mengkoordinasikan dan memantau kegiatan pemilahan sampah. Penanggung jawab sebaiknya adalah pejabat yang bertanggung jawab untuk rumah tangga kantor. Penanggung jawab membuat manajemen pengelolaan sampah terpilah. Misalnya :
– Menyiapkan sarana untuk rencana sampah organik untuk dapat dikelola sendiri menjadi kompos untuk keperluan pupuk tanaman di kantor. Membuat program kerja dan pembagian tugas pada seluruh pegawai kantor untuk ikut partisipasi.
– Pengaturan periode pengangkutan sampah organik (jika tidak diolah sendiri) dan sampah non organik oleh pihak yang bekerja sama. Untuk efisiensi biaya dapat bekerja sama dengan beberapa kantor di lingkup sekitarnya.

3. Menjalin kerja sama dengan pihak yang dapat mengelola atau mengangkut sampah yang sudah terpilah secara rutin. Dapat menghidupkan kembali bank sampah yang sudah ada.

4. Menyediakan tempat sampah terpilah pada setiap tempat yang strategis. misalnya:
– Dalam ruangan kerja bisa ditempatkan minimal dua buah tempat sampah, yaitu untuk sampah organik dan sampah kertas, ATK dan tisue.
– Pada areal lain yang lebih umum misalnya
* di dapur atau ruang makan dapat ditambahkan lagi satu buah tempat sampah yang diperuntukkan untuk plastik dan sisa kemasan produk.
* di areal saniter yaitu toilet ditempatkan tempat sampah untuk tisue bekas.
* di areal yang diperkenankan merokok disediakan tempat sampah khusus untuk puntung rokok.
– Pada satu tempat yang lebih khusus lagi misalnya di halaman belakang kantor dapat ditambahkan satu buah tempat sampah untuk sampah atau limbah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (limbah B3).

5. Memastikan bahwa sampah yang telah terpilah tetap terpilah sampai dengan tujuan akhirnya.

6. Membuat jejaring kerja sama pengelolaan sampah dengan beberapa kantor di sekitar.

7. Menyediakan sarana pendukung pengelolaan sampah terpilah.

Butuh komitmen dari setiap personil yang ada di lingkungan kantor, untuk mulai melakukan pemilahan sampah. Butuh tanggung jawab, perhatian dan kerjasama dari semua pihak dalam lingkungan kantor, tidak hanya melemparkan tanggung jawab pada satu orang penanggung jawab saja. Perilaku lama yang tidak berwawasan lingkungan misalnya membuang tisue bekas pakai sembarangan, membuang sampah sisa makanan sembarangan, membuang puntung rokok sembarang, tidak lagi dilakukan. Selain itu sikap peduli pada lingkungan dengan tidak segan mengambil sampah yang tidak pada tempatnya sangat perlu untuk ditumbuhkan.

Tujuan pemilahan sampah di kantor utamanya adalah untuk membangun perilaku tertib dalam membuang sampah dan peduli lingkungan. Perilaku ini diharapkan dapat kita tularkan pada lingkungan rumah dan sekitarnya. Manfaat jangka panjang dari hasil pemilahan sampah adalah bonus yang bisa kita berikan bagi lingkungan hidup.